Friday, February 03, 2006

Break Dance, Gaya Hidup Sesaat

Dunia remaja penuh dengan dunia yang berbau sensasi dan ingin tampil beda. Bahkan ketika seorang remaja berperilaku di luar kebiasaan malah dianggap tampil keren. Ada yang suka musik keras, balapan motor, menindik lidah dan lain-lain.
Untuk sekarang ini sedang ngetrend break dance yang biasa dimainkan anak muda di kota-kota besar di negeri ini. Tak lupa pula budak-budak Pontianak pun ikut kena sindrom tarian unik ini.
Semisal salah seorang siswa SMK di Pontianak yang biasa dipanggil kawan satu gengnya, Eko, sangat berminat dengan tarian ini secara kebetulan. Sebab awalnya tak suka namun setelah diketahui tarian break dance bisa digunakan untuk memikat pujaan hatinya, terpaksalah ia geluti.
Ada yang aneh pada pakaian yang dikenakannya, memakai celana jeans lebar dihiasi slayer ikat kepala yang diikatkan pada siku kaki. Kemudian dipadu padankan kaos ketat yang sebenarnya layak dikenakan adiknya. Ditambah kalung rantai yang melingkari lehernya dan ikat kepala macam pendekar.
“Pertama kali saya kenal tarian break dance pada salah satu acara di stasiun televisi tentang Ekspresi Gaya Pelajar (EGP). Awalnya saya anggap itu tarian orang gila karena sekedar jungkir balik tak beraturan,” tutur siswa SMK di Pontianak, Eko, seraya menghisap rokok yang dibelinya secara ketengan.
Kemudian lanjut beliau, tarian break dance sering ditampilkan di beberapa sinetron remaja. Membuat kawan-kawan sekelasnya jadi berminat untuk mengembangkan di perkumpulannya.
“Zaman milenium ini lain men, kalau tak pandai-pandai menghadapinya bisa-bisa dianggap kuno. Kalau sudah dianggap kuno wah deritanya ketika kita berusaha bergaul tak diindahkan orang lain. Orang alim saja sekarang sudah pandai gaya, jadi jangan sok menilai tanpa mengerti latar belakangnyalah,” ujarnya menggurui.
Sedangkan kawan Eko, Tinus, ketika ditanya gaya anak muda yang gemar dengan tarian break dance, sekedar menganggap fenomena tersebut gaya hidup sesaat saja. Dia pun mengakui kurang berminat dengan tarian break dance selain tidak punya waktu, juga lebih senang menikmati alunan musik sendu mendayu-mendayu.
“Saya ikut berhimpun disini bukannya senang dengan break dance sekedar menghargai kesenangan kawan jak. Nanti kalau sudah lulus SMU pun pastinya dia punya kegemaran lain. Makanya aku lebih senang dengarkan musik yang mengalun syahdu tidak mengentak-hentak seperti ini, soalnya sampai saya tua pun kegemaran ini bisa saya lakukan terus” terang Tinus, siswa SMU di dekat kebun binatang Pontianak.
Kemudian ditempat terpisah, psikolog lulusan Universitas Islam Sultan Agung (Unisula) Semarang, Nur Cholis S.Pi, mengungkapkan kalau gaya hidup break dance wujud dari eksepresi masa pubertas remaja. Sebab di Indonesia dianggap perilaku mewah didukung media tv nasional, padahal di Amerika break dance perilaku orang pinggiran.
“Masa-masa pubertas remaja emosi untuk mencoba sesuatu sangat besar. Kondisi ini tak terlepas keinginan sekedar merasakan saja, sedangkan masalah akibat sebatas penyesalan yang harus dipikirkan di belakang kemudian,” jelas psikolog, Nur Cholis Jum’at kemarin, di sela-sela kunjungannya ke Pontianak untuk mengadakan penelitian tentang emosi kelompok orang berkampanye di beberapa daerah di Indonesia.
Menurutnya, perkembangan break dance bermula dari sisi lain penyaluran emosi anak muda di Amerika. Jika di kalangan remaja Amerika menjadi perilaku remaja pinggiran yang tidak bisa menikmati hiburan kota.
“Sebab untuk memasuki ke arena hiburan dengan dunia glamournya dirasa terlalu mahal. Maka pelarianya ke tarian break dance sekedar membutuhkan musik hip-hop dengan hentakan nyaring,”
Dituturkannya, sebelum tarian break dance masuk ke Indonesia sebelumnya di rea 80-an ada tari kejang ditenarkan film yang dibintangi artis Meriam Berlina. Gaya tarian break dance ke Indonesia setelah adanya pengaruh dari film-film dan video klip penyanyi Amerika. Ditambah tokoh pahlawan dalam dunia video game.
“Saya secara pribadi mengakui kalau di Amerika musik break dance identik dengan pemuda pinggiran yang tak mampu menjangkau hiburan kota, karena tak ada duit. Namun setelah masuk ke Indonesia malah menjadi trend anak-anak muda yang banyak duit,” imbuhnya. (mahmudi).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home